Life of an Auditor – Time or Money?


Life of an Auditor – Time or Money?

Sunny – Jakarta

Menjadi auditor, adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sejak kecil, I was a big fans of Trio Detective, Lima Sekawan, Tintin, Sherlock Holmes, etc. Secara cita-cita menjadi detektif bukan menjadi cita-cita favorit waktu itu, jadilah aku ingin sekali menjadi dokter forensik yang juga bertugas sebagai detektif. Too bad, di SMA aku tidak begitu suka pelajaran biologi dan for my reason, aku tidak terlalu suka melihat gerombolan anak-anak fakultas kedokteran di universitas negeri di kotaku. Terlalu eksklusif. Jadilah pilihan profesi beralih ke teknik dan ITB jadi tujuan selanjutnya. Karena dulu waktu UMPTN (sekarang apa ya, istilahnya?) aku memilih program IPC, aku boleh memilih 3
jurusan. Jadi aku memilih Teknik Sipil ITB, Teknik Industri ITB, dan yang terakhir Akuntansi.

Tak dinyana tak diduga, aku yang pede abis bakal masuk salah satu jurusan teknik itu, ternyata malah diterima di Akuntansi. Waks!!! Sebenarnya sih tidak buruk-buruk amat juga, secara universitas yang kupilih juga universitas negeri ternama. Hanya saja, benar-benar unexpected. Hm, ya sudah… dijalani saja. Ada rasa penasaran untuk mengulang UMPTN di tahun berikutnya, tapi melihat IP yang selalu di atas 3.5 membuatku berpikir ulang, “Mungkin memang ini jalanku.”

Sama seperti mahasiswa lainnya, di tahun ke-2 aku mulai mengincar posisi asisten dosen di kampusku. Alhamdulillah berhasil. Di tahun ke-4, aku sudah menyelesaikan semua mata kuliah dan tinggal menyusun skripsi. Di saat inilah datang kesempatan untuk bergabung dengan sebuah international accounting firm sebagai seorang auditor, tepatnya external auditor.

Mulai dari saat itu, ritme hidupku mulai berubah. Jam kerja resmi adalah jam 8 pagi – 5 sore. Kenyataannya, kalau deadline sudah menunggu, aku bisa stay di kantor sampai jam 4 pagi, untuk kemudian pulang ke kos-kosan di daerah karet pedurenan, untuk kemudian kembali lagi ke kantor paling lambat jam 8 pagi. Capek banget, karena weekend pun dilabas untuk overtime. Otomatis jam tidur juga berkurang jauh, makanya perlu kemampuan untuk tidur secara efektif. Maksudnya, tidur 1 jam cukup asal bener-bener pules. Semua kerja keras terbayar ketika kita menerima paycheck. Saldo tabungan langsung bertambah secara signifikan. Maklum, di masa peak season uang lemburku bisa 2-3 kali lipat dari gaji sebulan tanpa overtime.

Oya, siklus kerja external auditor itu terbagi yaitu peak season atau masa sibuk dan low season atau masa istirahat. Peak season biasanya terjadi antara bulan Oktober sampai bulan Mei tahun berikutnya. Hal ini terjadi karena pada masa-masa ini auditor mulai melakukan interim fieldwork atau kerja lapangan sebelum laporan keuangan klien tutup buku di bulan Desember. Setelah Desember, auditor melakukan final fieldwork untuk melengkapi interim fieldwork berdasarkan laporan keuangan klien per bulan Desember. Nah, bulan Maret, April dan Mei biasanya adalah deadline penerbitan laporan keuangan yang telah diaudit, tergantung jenis industrinya
apa. Kalau untuk perusahaan terbuka, biasanya mereka diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit paling lambat pada 31 Maret. Makanya, kenapa sampai para auditor keukeuh kerja sampai menginap di kantor
karena mengejar deadline pelaporan tersebut.

Sebaliknya, periode antara Juni sampai Agustus disebut sebagai low season alias masa tenang. Biasanya penugasan audit di periode ini sedikit dan lebih banyak digunakan untuk self development, misalnya mengikuti training, ujian profesi, etc. Sepanjang berkarir di firma ini aku sempat beberapa kali ujian untuk mendapatkan sertifikasi. Meskipun sulit dan harus mencoba berkali-kali, karena sertifikasi ini juga merupakan salah satu syarat untuk promosi jabatan, ya harus ijalani. Jadi tidak heran kalau di musim ujian, aku harus lebih pintar-pintar bagi waktu antara menyelesaikan pekerjaan kantor dengan belajar untuk menghadapi ujian.

Bicara soal gaji (karena di respons sebelumnya sempat ada yang menyinggung auditor dibayar lebih mahal daripada karyawan perusahaan), for a starter, memang gaji junior auditor cukup tinggi. Di tahun 1999, gaji pertamaku adalah Rp 2 juta/bulan, belum dipotong pajak; bersih dibawa pulang sekitar Rp 1.9 juta/bulan, lebih besar dari gaji teman-teman seangkatan kuliahku yang diterima bekerja di perusahaan multinasional. Kenaikan gaji hanya akan diterima bila aku promosi ke level atau grade yang lebih tinggi. You’re promoted, so you have yourself a raise.  A big raise! Usually more than 50% of the previous salary. If you were not promoted, then you’ll have the same salary for another year ?.

Sementara fee yang harus dibayar perusahaan untuk sebuah penugasan minimal USD 10,000 (kalau firma tempat aku bekerja biasanya meng-charge kliennya dengan mata uang USD). Jumlah fee ini bervariasi, tergantung ukuran sebuah perusahaan. Angka fee ini muncul dari perhitungan biaya jasa auditor yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu penugasan.

Contohnya begini. Dalam suatu penugasan, satu team terdiri dari 1 partner, 1 manager, 1 senior auditor dan 2 junior auditor. Sama seperti halnya lawyer, biaya jasa auditor dihitung per jam servis yang diberikan, sesuai dengan rate masing-masing level. Let’s say, rate per jam partner adalah USD 400, manager USD 250, senior auditor USD 80, dan junior auditor USD 30. Estimasi jasa partner yang digunakan selama penugasan misalnya 4 jam, manager 8 jam, senior auditor 60 jam, dan junior auditor 40 jam/orang. Dengan perhitungan sederhana, fee yang di-charge ke klien adalah USD 10,800 yang merupakan hasil dari: (USD 400 x 4 jam) + (USD 250 x 8 jam) + (USD 80 x 60 jam) + 2 x (USD 30 x 40 jam).

Anggaplah aku yang junior auditor waktu itu, menghasilkan USD 30 x 40 jam = USD 1,200 atau  dengan asumsi 1 USD = Rp 10,000, aku menghasilkan Rp 12 juta untuk satu penugasan tersebut. Bandingkan dengan gaji aktual yang aku terima. Hanya sekitar 10%-nya saja. Sisanya masuk ke mana? Ya masuk ke firma, untuk membiayai operasional firma tersebut dan tentu saja untuk bagian partner, secara mereka yang punya, gitu loh… Kesimpulannya, tidak peduli berapa fee yang dibayar perusahaan, gaji auditor ya tetap saja segitu, sesuai standar. Tapi kalau sudah menerima uang lembur, hm…. lupa deh, capeknya kemarin seperti apa. Bukan apa-apa, seperti yang dibilang sebelumnya, uang lembur bisa mencapai 2-3 kali lipat gaji normal sebulan.

Contoh mudahnya, kalau setiap hari Senin sampai Jumat kita pulang jam 9 malam, demikian pula hari Sabtu dan Minggu kita bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam, total jam lembur aktual kita adalah (5 hari x 4 jam) + (2 hari x 12 jam) = 44 jam. Dengan memakai perhitungan lembur seperti yang diatur oleh Menteri Tenaga Kerja (kalau aku ngga salah ingat ya), upah lembur dihitung sebagai berikut:

  • Untuk hari kerja, 1 jam pertama dikali 1.5 unit, jam lembur berikutnya dikali dengan 2 unit
  • Untuk hari sabtu dan minggu, 8 jam pertama dikali dengan 2 unit, jam 9 dikali dengan 3 unit, dan jam seterusnya dikali dengan 4 unit.

Jadi dengan contoh di atas, 4 jam lembur/hari selama 5 hari dihitung menjadi 37.5 jam kerja, sementara 12 jam lembur/hari selama 2 hari dihitung menjadi 2 x (8 jam lembur x 2) + (1 jam lembur x 3) + (3 jam lembur x 4) = 62 jam kerja, sehingga total jam lembur yang akan dijadikan dasar perhitungan upah lembur adalah 99.5 jam kerja. Normal waktu kerja per bulan adalah 173 jam kerja, sehingga dengan asumsi gaji bulanan– net 1.9 juta per bulan, maka upah lembur yang diterima adalah 92/173 x Rp 1.9 juta = Rp 1.1 juta, sehingga total take home pay-nya menjadi Rp 3 juta.

Jumlah di atas belum termasuk meal and transportation allowance ya. Biasanya, setiap kali lembur, kita boleh reimburse biaya makan siang atau makan malam, juga biaya taksi sampai ke rumah. Kalau bawa mobil sendiri, kita boleh reimburse uang bensin, biasanya dihitung dengan jarak berapa km dari rumah ke kantor dan dikalikan dengan tarif uang bensin per kilometernya. Ini baru contoh yang pulang jam 9 malam, sementara pada kenyataannya, banyak sekali yang baru pulang ke rumah jam 12 malam atau malah subuh dini hari. Banyak juga yang bekerja di akhir tahun (biasanya untuk melakukan stock take atau stock opname di warehouse klien) atau di hari-hari libur nasional, yang pasti hitungan jam lemburnya pun berkali-kali lipat. Yang parah, ada juga yang sudah mengambil cuti tapi karena ada deadline yang harus dipenuhi, ya akhirnya tetap kerja juga. Kalau sudah begitu ya sudah pasti hitungannya lembur.

That’s why employee turnover dari sebuah firma menjadi sangat tinggi. Seperti seleksi alam. Sekali menerima karyawan, accounting firm bisa menerima 20-30 karyawan sekaligus, tapi mereka juga bisa langsung kehilangan sejumlah yang sama. Tidak semua orang tahan dengan ritme kerja yang seperti itu dan tidak semua orang bisa dipromosi karena persaingan juga sangat ketat. Jadi, mereka yang tertinggal ada dua kemungkinan. Pertama, mereka yang memang benar-benar berniat meniti karir dan menjadi seorang partner. Kedua, mereka yang tidak berminat tapi belum juga menemukan tempat lain untuk pindah.

Buat aku personally, bekerja di accounting firm sangat membantu aku sebagai fresh graduate, karena memang di sana aku bisa belajar banyak. Tahu sendiri, di kampus tidak pernah ada yang namanya kerja praktik (kecuali kalau program D3 mungkin). Jadi yang namanya melakukan audit hanya diketahui by book. Bila bekerja di accounting firm, sebagai junior auditor, biasanya mereka akan diberi banyak penugasan di bermacam-macam industri klien untuk memperbanyak jam terbangnya. Dan asyiknya, kita tidak hanya berkutat di bagian akuntansinya saja, tapi bisa ke bagian produksi, marketing, dll yang otomatis memperkaya wawasan dan pengetahuan kita akan suatu industri. Sementara kalau bekerja sebagai staf akunting atau keuangan di sebuah perusahaan, maka kita akan belajar hal yang itu-itu saja. Hal inilah yang menjadikan “lulusan” sebuah accounting firm biasanya dihargai lebih mahal di market bila berminat untuk pindah ke sebuah perusahaan biasa.

Gaji seorang senior auditor dengan pengalaman 3 tahun bekerja biasanya lebih tinggi dari rata-rata gaji seorang karyawan dengan masa kerja yang sama, karena yang aku bilang tadi, kenaikan gaji karena promosi di sebuah accounting firm is very significant. Jadi ketika dia pindah ke perusahaan biasa pun, biasanya akan ditempatkan di posisi yang lumayan, misalnya asisten manajer atau manajer suatu departemen sehingga tugas dan tanggung jawabnya cocok dengan gaji yang diterima. Hal ini juga kadang menjadi pisau bermata dua buat orang yang sudah tidak cocok bekerja diacccounting firm dan tidak bisa menemukan pekerjaan lain di perusahaan karena gajinya sekarang sudah terlalu tinggi!

Nah, biasanya nih, mulai tahun ke-3 (kalau tahan kerja sampai tahun ke-3), “godaan” mulai menghampiri. Tawaran untuk bergabung dengan perusahaan klien atau lainnya mulai datang dan membuat bimbang. Biasanya sih, di tahun ke-3, seorang auditor sudah mulai dianggap mumpuni, sudah jadi senior (biasanya), jadi sudah bisa memimpin sebuah tim. Pengetahuan yang didapat selama 3 tahun bekerja sudah mulai kelihatan manfaatnya. Pilihannya, resign atau tidak resign. Seperti menghitung kancing. Dan mulai menghitung untung rugi antara pindah atau tidak pindah. Kalau pindah, kemungkinan besar waktu bekerja tidak seganas kemarin, tapi konsekuensinya juga  take home pay mungkin berkurang karena sudah tidak ada lembur. Apesnya, kalau ternyata pekerjaan baru juga menuntut kita lembur juga tapi kita sudah ngga berhak atas uang lembur lagi, hehehehe…

Gampangnya sih, kalau memang niatnya untuk mengumpulkan uang, ya bekerjalah di accounting firm. Kalau niatnya bekerja yang “sehat” (pulang tenggo, sabtu minggu di rumah, punya banyak waktu untuk keluarga, tidur minimal 8 jam sehari), then it might not be the place for you. Tapi, siapa tahu juga, dapat pekerjaan impian (posisi ok, ngga lembur, gaji gede) tapi masih bisa berkumpul dengan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: