BOSS Profile


Oleh: Paulus Bambang WS

Boss itu sulit dinilai dalam keadaan normal. Kenapa? Mereka pintar bersandiwara. Aktor yang mumpuni makanya mereka jadi boss. Sindir sana-sini supaya kelihatan lebih pintar. Kritik sana sini supaya kelihatan lebih simpel. Komentar sana-sini supaya kelihatan punya perhatian. Ada yang memang pantas jadi boss alias by design, adapula yang jadi boss karena by default alias consistent luck. Dapat pekerjaan yang pas terus sehingga meroket jadi boss tanpa pernah merasa susahnya merangkak jadi boss. Nah yang begini ini, sayangnya banyak yang punya the right last name alias keturunan, yang akan mengalami banyak tekanan ketika kondisi bisnis sudah mulai tidak wajar atau abnormal.

Down turn alias abnormal negatif akan membuat boss kelihatan karakter aslinya soal memanusiakan manusia, kehilangan pendekatan “WONG” (bahasa jawa artinya orang). Up turn alias abnormal positif akan membuat boss kelihatan karakter jiwanya soal material alias ‘WANG” (berupaya mengurangi insentif yang seharusnya diberikan ketika perusahaan tumbuh dengan pesat). Nah, yang membedakan GOOD boss dan BAD boss dalam kondisi perusahaan yang GOOD and BAD adalah soal WONG dan WANG tadi.

Pertama, BAD Boss in BAD Company akan mengorbankan WONG dan WANG sekaligus dari bawahannya,

Kedua, BAD Boss in The GOOD Company akan mengorbankan WANG dengan mencoba mempertahankan WONG,

Ketiga, GOOD Boss in the BAD Company akan meningkatkan WONG walaupun harus mengorbankan WANG dari bawahan,

Keempat, GOOD Boss in the GOOD Company akan meningkatkan WONG dan WANG secara selaras dan seimbang.

Lalu apa artinya WONG dan WANG buat karyawan ? Silahkan baca Lead to Bless Leader untuk uraian selengkapnya.

Karyawan sebagai manusia akan berbahagia kalau mereka mendapat dua hal penting yakni UWONG dan UWANG

  • ”di UWONG ke” (dimanusiakan) dalam bahasa jawa atau diperlakukan sebagai manusia seutuhnya (Human Being) yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Ini kebahagiaan yang paling mendasar, karyawan mendapat pemimpin yang memperlakukan mereka sebagai sesama manusia yang kebetulan pada saat ini berbeda posisi, satu sebagai pemimpin dan satu sebagai karyawan biasa. Misalnya :
  • Dipandang penting oleh pemimpinnya
  • Dipercaya untuk melaksanakan tugas dengan kreativitasnya sendiri
  • Dilibatkan dalam penyusunan target dan ide pelaksanaan
  • Diperhatikan keunikannya yang berbeda dengan sesama karyawan
  • Dikembangkan potensinya sehingga mencapai hasil yang maksimal
  • Ditegur empat mata dan dipuji di depan semua kolega
  • Disapa dengan nama dan dikenal secara pribadi
  • Diperlakukan sebagai sahabat dan anggota keluarga
  • Dilindungi ketika melakukan kesalahan yang tak disengaja
  • Mendapat penghargaan yang layak dalam bentuk ”UWANG” (bukan UANG dalam arti hanya materi tapi UWANG dalam perspektif yang lebih luas), artinya mendapat imbalan yang seimbang dengan prestasinya dalam bentuk :
  • Kecukupan material seperti gaji, insentif, bonus, tunjangan-tunjangan untuk mendukung kebutuhan jasmani manusia pada saat ia masih mampu bekerja
  • Kecukupan material untuk mendukung kehidupan keluarga karyawan secara keseluruhan
  • Kecukupan material untuk mendukung kegiatan karyawan dan keluarga dalam komunitas
  • Kecukupan material setelah karyawan melewati masa purna bhakti, pensiun dan terminasi hubungan dengan perusahaan secara formal

Kalau karyawan sudah mendapat kombinasi kedua hal itu, maka karyawan akan merasakan pekerjaan dan tuntutan target yang harus dikerjakan bukan sebagai beban tapi sebagai bagian dari kontribusi yang selayaknya diberikan. Kalau disimpulkan secara mudah maka mereka akan menjadi karyawan yang HAPPY, artinya merasa mendapat perlakuan :

  • Honored : Dihormati, dianggap penting, diperlakukan dengan sepantasnya
  • Appreciated : Dihargai hasil karyanya dalam bentuk materi, emosi, spiritual
  • Protected : Dilindungi dan diberi kesempatan untuk berkreasi secara bebas
  • Personalized : Dikembangkan secara unik, dihargai perbedaan, potensi.
  • Yin Yang Balanced : kebutuhan pekerjaan, posisi, professionalisme dalam bentuk materi dan non materi (emosi dan spiritual) diberikan secara seimbang

Kalau itu konsep berpikirnya, bagaimana bisa menjadi BAD BOSS dan GOOD BOSS di perusahaan yang GOOD dan BAD …… tunggu artikel selanjutnya.

Penulis adalah author buku ‘Best Seller’: ‘Built to Bless’ dan buku terbaru ‘Lead to Bless Leader’ Kepemimpinan yang menjamin perusahaan SEJAHTERA dan karyawan BAHAGIA.

 

portalhr.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: